| Camp Unit IV Savanajaya |
"Kakek saya Bekas Tahanan"
Saya sering memanggil manusia yang bernama "Usup" itu, embah. Beliau berasal dari Tenjo, Jawa barat. Suatu saat, beliau pernah bercerita tentang sebuah kisah hidup yang menghantarkannya ke rimba Orde Baru di Pulau Buru. Mulanya beliau ditahan di Nusakambangan, kemudian dikirim bersamaan dengan para tapol golongan B. Suatu pertanyaan yang tak pernah lekang dari benak hati embahku: “Mengapa dan kenapa beliau ditahan?” Padahal ia hanyalah seorang Karyawan pada PT. Unilever kala itu. Beliau yang saat itu hendak pulang ke rumah, tiba-tiba disergap oleh beberapa tentara dengan menodongkan senjata padanya. Sejak saat itu, berlanjutlah kehidupannya dalam dunia tahanan, tanpa sepengetahuan anak dan istrinya.
Beliau dipenjarakan di barak unit IV (Savanajaya). Bermodalkan sabit, parang dan cangkul, para tapol membabat habis hutan pulau buru untuk dijadikan lahan pertanian. Pada saat pembebasan tahanan, para sanak keluarga (anak dan istri) mereka didatangkan dari Jawa. Namun, beliau tak pernah menerima kabar dan kehadiran sosok anak dan istrinya di Tenjo, Jawa Barat.
Setelah para Tapol direhabilitasi dan transmigran asal Jawa masuk ke pulau Buru, para transmigran mendapatkan jatah kapling rumah dan ternak. Begitupun dengan para eks-tapol yang memilih menetap di Pulau Buru. Mereka biasanya memulai kehidupan baru dengan bertani dan beternak. Kakek saya memilih menjadi petani. Para pribumi pulau Buru memperlakukan para ekstapol dengan baik. Bahkan banyak yang berterimakasih kepada para eks Tapol, karena mereka mengembangkan sistem pertanian yang cukup bagus sehingga penghuni itu bisa merasakan makan nasi dari lumbung padi sendiri. Kami telah dipersatukan lebih dari ikatan darah.
Setelah direhabilitasi pada tahun 1976, kakek menikah dengan seorang janda, mantan istri teman tahanan sebaraknya (embah saya perempuan, Sriyanah, asal Jombang - Jawa Timur). Namun selepas dari tahanan, mereka harus melapor setiap bulan pada Kodim/Koramil setempat.
Hingga saat ini sanak keluarganya yang berada di Jawa Barat tak pernah mengetahui, atau mungkin mereka mengira embah saya sudah tiada. Sejujurnya embah saya sangat merindukan anaknya (Dadang, putra tunggal dari istri pertama). Ia hanya bisa memandangi foto jadul anaknya - foto itu terselip pada topi pet Kerjanya. Masih dipandangi hingga kini.
Embah saya dan para eks-Tapol yang lain adalah motivator dan laboratorium terbesar dalam hidup saya, keluarga, dan para pemuda di Desa Savanajaya. Dia seringkali berpesan: ''Pulau buru bukti Orde Baru, keliru ojo ditiru". Alhamdulillah beliau masih diberi umur panjang. Namun saat ini beliau tengah terbaring dalam sakit tuanya.
Dan dalam hendusan nafas embah, selalu terselip rindu untuk anak dan isterinya di Jawa. Suatu saat, ada pekerja bangunan berasal dari Tenjo, Jawa barat. yang bekerja di Savanajaya. Beliau menitipkan sepucuk surat rindu untuk anaknya dan pada saat itu aq yg menulis surat itu. Namun entah tanpa ada angin bahagia, kabarpun tiada ia terima kembali. Mungkin si pengirim surat itu tak menemukan alamat rumahnya atau mereka sudah pindah. Karena alamat yang diberikan itu adalah alamat lama. Kakek masih saja ingat dengan jelas, walaupun telah berpuluh tahun lewat.***
"Tumbuh di Pulau Buru"
Saya lahir pada 27 September 1993 di pulau Buru. Menjelang abad ke-21, rumah sakit masih belum memadai, jadi saya dilahirkan di rumah dengan bantuan dukun beranak.
Seperti saya, ibu saya juga lahir di pulau Buru, dan menikah dengan ayah saya yang asli orang Maluku. Mungkin saya tak bisa terlalu banyak bercerita tentang ibu, karena sedari kecil saya tinggal bersama embah. Kala itu, ibu saya ikut bapak saya tugas di Ambon. Pasca kerusuhan berdarah di Ambon, ibu dan bapak pindah kembali ke Savanajaya - waktu itu saya SD. Kami tinggal di rumah gubuk pemberian, waktu embah bebas dari tahanan.
Saya hanya ingat, kala itu ibu saya pernah bercerita, semasa ia sekolah, sangat susah, karena dengan berbagai alasan pihak instansi sekolah tidak mau menerima anak didik dari bekas tahanan politik walaupun banyak anak-anak eks tapol yang sangat cerdas. Ibu harus mendapat ijin dari komandan kodim kabupaten Buru, untuk bersekolah. Setelah lulus, anak-anak eks tapol ini banyak yang sukses sehingga mengangkat nama baik desa Savanajaya. Namun setelah lulus SMA, ibu saya menganggur karena keadaan ekonomi: dia tidak mampu melanjutkan kuliah ke Jawa. Akhirnya ia bertahan di pulau Buru, sambil menggembala ternak sapi dan bebeknya dulu.
Saya adalah generasi ke-3 Savanajaya. Saya lahir, besar, dan diperkenalkan pada peradaban di Pulau Buru. Sedari kecil saya sudah diberi pemahaman tentang akal licik Suharto, tanpa maksud mengajarkan balas dendam.
Sekolah kami masih tertinggal. Kurang fasilitas belajar mengajar dan itulah yang menjadi hambatan kami untuk bersaing dengan teman-teman di Jawa. Apalagi jarak sekolah seringkali jauh sekali dari rumah. SMA saya jauhnya sekitar 21 km. Kami ke sekolah naik mobil lintas, terkadang harus naik truk pasir/barang. Tragisnya kalau sudah tidak ada mobil, ya terpaksa pulang jalan kaki.
Namun tekad kami, dengan alam kami belajar, dengan alam kami bertahan hidup. Para sahabat pribumi mereka sangat baik, bahkan mereka telah menganggap kami seperti saudara. Kami sering belajar bersama dengan mereka. Kalau kami mengajari mereka, mereka memberi kita oleh-oleh dari kampung seperti sayuran, durian, sagu, ikan.
Jalan jongkok, tampar, pukul, lari, jemur itu sudah mentradisi di sekolah sedari SD. Jangankan terlambat sekolah, tak menyapa guru di jalan saja dihukum. Rambut panjang, tak mengerjakan tugas, berdebat dengan guru hingga guru merasa kalah, bagi mereka itu bentuk perlawanan dari kami. Oleh karenanya kami sering dihukum. Kalau untuk hukuman tak mengenal anak siapa, semua sama rata. Tapi jaman ibuku dulu, masih dipisahkan antara anak tapol dan yang bukan. Anak tapol hukumannya seringkali lebih parah.
Di sekolah, kami, para keturunan eks-tapol, masih seringkali dijuluki “anak unit” karena pada zaman embah dulu ditahan, sistem penjaranya menggunakan unit. Apalagi kalau kami dihukum, sapaan "anak unit" selalu terlontar.
Bersama teman-teman saya “anak unit” itu, kami sering berdiskusi tentang politik. Karena kesadaran ini membuat kami kritis, hingga masuk SMA, kami cukup disegani oleh teman-teman lain di sekolah. Tidak itu saja, keberanian untuk mengutarakan pendapat telah ditanamkan dari kecil, dan kami sudah tahu tentang berbagai sistem ekonomi, seperti sosialis dan kapitalis yang waktu itu seperti mahluk luar angkasa saja bagi teman-teman lainnya.
Suatu saat di SMA, ada pelajaran sejarah, mengisahkan tentang PKI dan Suharto. Guru tersebut juga menyinggung dengan keras para tapol di pulau Buru. Tergugahlah saya untuk menyanggah. Dengan nada agak emosi: "Kakek kami, ayah kami dan sesepuh kami yang berada di Pulau Buru bukanlah Penghianat NKRI dan bukan para pembunuh para Jendral. Merekalah korban kambing hitam atas kelicikan atas keserakahan Suharto" sembari melempar buku dengan judul Diburu di Pulau Buru milik ayah saya serta catatan kecil obrolan semalam dengan mbah Solihin (mantan tapol Savanajaya juga) ke depan kelas.
Saya sudah meninggalkan sekolah itu, untuk kuliah di Jawa. Namun, adik saya Mukram, yang sekarang duduk di kelas 3 SMA seolah melanjutkan perdebatan saya dengan guru Sejarah itu. Dia bahkan menyuarakan orasinya pada tanggal 30 September di sekolah.
Inilah kisahnya melalui telpon: "Kak, tadi beta sudah menyampaikan secuil aspirasi dari embah'' di Savanajaya tepat hari Senin, pasca upacara bendera, beta langsung menghentikan anak-anak untuk bubar dari barisan. Dengan agak sedikit gugup dan setengah berani, beta turunkan bendera setengah tiang, yang baru dikibarkan saat upacara bendera. Beta langsung dimarahi sama pak guru sembari mengarahkan rotan Jawa ke arah badan beta. Tapi beta tentang, dan mulailah orasi kecil beta: Sejatinya hari ini, adalah hari duka mendalam bagi Indonesia setelah Indonesia merdeka. Kisah tragis masih membekas dan mengalir di dalam darah para anak cucu tahanan politik. Embah saya, ayah mereka, dan sesepuh kami adalah korban keji rezim orde baru. Mereka membabat hutan pulau Buru, hingga ayah dan ibu kalian semua berada di lembah berdarah ini (sembari menunjuk ke arah para teman: anak-anak transmigran).” Kemudian telpon kami terputus.***
"Kehidupan di Pulau Buru"
Savanajaya ini bagi saya tempat yang sangat menyenangkan. Rasa kebersamaannya tinggi. Kalau ada yang mau berkunjung, pasti tidak kesulitan menemukan tempat tinggal. Mungkin karena ini, banyak orang suka dengan tempat kami, termasuk intel yang dikirim untuk memata-matai kami.
Pada tahun 2008-2009, pemerintah mengirimkan intelnya, untuk memata-matai kegiatan kami. Semula ada 1 anggota intel yang dulu mengakunya orang dari Jawa, dan tinggal di samping rumah saya, kerjanya membuat tempe. Setelah beberapa bulan tinggal di Savanajaya, mulailah ia menjalankan misi dengan halus, untuk mencari tahu tentang seluk beluk kami. Katanya sih mau cari tahu masih ada bara api untuk memberontak atau tidak. Tapi lama kelamaan ia mulai betah, dan semenjak ia pindah dari jabatan intelnya menjadi tentara organik, mulailah ia berterus terang dengan pemilik rumah itu, tentang maksud dan tujuan ia datang ke Savanajaya. Dan nyatanya ia mulai betah dan cinta pada orang-orang Savanajaya, yang secara bijak memaparkan kami bukan pemberontak dan bukan pendendam.
Sayangnya pendidikan dan fasilitas masih sangat terbatas di sini. Karena itu, saya harus ke Jawa (Yogya), untuk kuliah. Begitu juga saudara misan saya. Mereka bilang, pelajaran di Yogya itu sukar, karena di pulau Buru kan agak ketinggalan. Itu yang membuat saya tertantang. Tapi sewaktu di Yogya, saya bisa mengikuti kuliah dengan baik. Saya juga sempat menentang dosen saya di Yogya. Dia menyatakan bahwa yang terbaik adalah agama Islam dalam memecahkan segala hal, lalu menyindir eks-tapol. Tanpa segan, saya menyanggahnya, dengan semboyan embah saya “Pulau Buru bukti Orde Baru. Keliru, ojo ditiru [Kalau salah, jangan ditiru].” Saya paparkan sejarah para eks tapol kepada dosen itu, lalu bertanya apakah agama bisa memecahkannya. Saya tidak tahu apa nanti reaksi dosen tersebut, karena rasanya dia menghindar. Tapi saya sudah bertekad untuk terus menyuarakan kebenaran ini.***
4 komentar:
Makasih infonya....keluaga saya extapol...terkutuk soeharto
Makasih infonya....keluaga saya extapol...terkutuk soeharto
Makasih infonya....keluaga saya extapol...terkutuk soeharto
Kembali kasih pak sudah sempat mampir..
Posting Komentar