Rabu, 09 Oktober 2013

Segenggam Cerita dari "Savanajaya"_Pulau Buru

Camp Unit IV Savanajaya













"Kakek saya Bekas Tahanan"

Saya sering memanggil manusia yang bernama "Usup" itu, embah. Beliau berasal dari Tenjo, Jawa barat. Suatu saat, beliau pernah bercerita tentang sebuah kisah hidup  yang  menghantarkannya  ke  rimba  Orde  Baru  di  Pulau  Buru.  Mulanya beliau  ditahan  di  Nusakambangan,  kemudian  dikirim  bersamaan  dengan  para tapol  golongan  B.  Suatu  pertanyaan  yang  tak  pernah  lekang  dari  benak  hati embahku: “Mengapa dan kenapa beliau ditahan?” Padahal ia hanyalah seorang Karyawan pada PT. Unilever kala itu. Beliau yang saat itu hendak pulang ke rumah,  tiba-tiba  disergap  oleh  beberapa  tentara  dengan  menodongkan  senjata padanya. Sejak saat itu, berlanjutlah kehidupannya dalam dunia tahanan, tanpa sepengetahuan anak dan istrinya. 
Beliau dipenjarakan di barak unit IV (Savanajaya). Bermodalkan sabit, parang dan cangkul, para tapol membabat habis hutan pulau buru untuk dijadikan lahan pertanian. Pada saat pembebasan tahanan, para sanak keluarga (anak dan istri) mereka didatangkan dari Jawa. Namun, beliau tak pernah menerima kabar dan kehadiran sosok anak dan istrinya di Tenjo, Jawa Barat.


Setelah  para  Tapol  direhabilitasi  dan  transmigran  asal  Jawa  masuk  ke  pulau Buru,  para  transmigran  mendapatkan  jatah  kapling  rumah  dan  ternak. Begitupun dengan para eks-tapol yang memilih menetap di Pulau Buru. Mereka biasanya  memulai  kehidupan  baru  dengan  bertani  dan  beternak.  Kakek  saya memilih  menjadi  petani.  Para  pribumi  pulau  Buru  memperlakukan  para  ekstapol dengan baik. Bahkan banyak yang berterimakasih kepada para eks Tapol, karena  mereka  mengembangkan  sistem  pertanian  yang  cukup  bagus  sehingga penghuni itu bisa merasakan makan nasi dari lumbung padi sendiri. Kami telah dipersatukan lebih dari ikatan darah.
Setelah direhabilitasi  pada tahun 1976, kakek menikah dengan seorang janda, mantan istri teman tahanan sebaraknya (embah saya perempuan, Sriyanah, asal Jombang  -  Jawa Timur). Namun selepas dari tahanan, mereka harus melapor setiap bulan pada Kodim/Koramil setempat.

Hingga  saat  ini  sanak  keluarganya  yang  berada  di  Jawa  Barat  tak  pernah mengetahui, atau mungkin mereka mengira embah saya sudah tiada. Sejujurnya embah  saya  sangat  merindukan  anaknya  (Dadang,  putra  tunggal  dari  istri pertama). Ia hanya bisa memandangi foto jadul  anaknya  -  foto itu terselip pada topi pet Kerjanya. Masih dipandangi hingga kini.

Embah  saya  dan  para  eks-Tapol  yang  lain  adalah  motivator  dan  laboratorium terbesar dalam hidup saya, keluarga, dan para pemuda di Desa Savanajaya. Dia seringkali  berpesan:  ''Pulau  buru  bukti  Orde  Baru,  keliru  ojo  ditiru". Alhamdulillah beliau masih diberi umur panjang. Namun saat  ini beliau tengah terbaring dalam sakit tuanya. 

Dan  dalam  hendusan  nafas  embah,  selalu  terselip  rindu  untuk  anak  dan isterinya  di  Jawa.  Suatu  saat,  ada  pekerja  bangunan  berasal  dari  Tenjo,  Jawa barat. yang bekerja di Savanajaya. Beliau menitipkan sepucuk surat rindu untuk anaknya dan pada saat itu aq yg menulis surat itu. Namun entah tanpa ada angin bahagia,  kabarpun  tiada  ia  terima  kembali.  Mungkin  si  pengirim  surat  itu  tak menemukan alamat rumahnya atau mereka sudah pindah. Karena alamat yang diberikan  itu  adalah  alamat  lama.  Kakek  masih  saja  ingat  dengan  jelas, walaupun telah berpuluh tahun lewat.***

"Tumbuh di Pulau Buru"
Saya  lahir  pada  27  September  1993  di  pulau  Buru.  Menjelang  abad  ke-21, rumah  sakit  masih  belum  memadai,  jadi  saya  dilahirkan  di  rumah  dengan bantuan dukun beranak.

Seperti saya, ibu saya juga lahir di pulau Buru, dan menikah dengan ayah saya yang asli orang Maluku. Mungkin saya tak bisa terlalu banyak bercerita tentang ibu,  karena  sedari  kecil  saya  tinggal  bersama  embah.  Kala  itu,  ibu  saya  ikut bapak  saya  tugas  di  Ambon.  Pasca  kerusuhan  berdarah  di  Ambon,  ibu  dan bapak  pindah  kembali  ke  Savanajaya  -  waktu  itu  saya  SD.  Kami  tinggal  di rumah gubuk pemberian, waktu embah bebas dari tahanan. 

Saya hanya ingat, kala itu ibu saya pernah bercerita, semasa ia sekolah, sangat susah,  karena  dengan  berbagai  alasan  pihak  instansi  sekolah  tidak  mau menerima  anak  didik  dari  bekas  tahanan  politik  walaupun  banyak  anak-anak eks  tapol  yang  sangat  cerdas.  Ibu  harus  mendapat  ijin  dari  komandan  kodim kabupaten  Buru,  untuk  bersekolah.  Setelah  lulus,  anak-anak  eks  tapol  ini banyak yang sukses sehingga mengangkat nama baik desa Savanajaya. Namun setelah  lulus  SMA,  ibu  saya  menganggur  karena  keadaan  ekonomi:  dia  tidak mampu  melanjutkan  kuliah  ke  Jawa.  Akhirnya  ia  bertahan  di  pulau  Buru, sambil menggembala ternak sapi dan bebeknya dulu.

Saya  adalah  generasi  ke-3  Savanajaya.  Saya  lahir,  besar,  dan  diperkenalkan pada  peradaban  di  Pulau  Buru.  Sedari  kecil  saya  sudah  diberi  pemahaman tentang akal licik Suharto, tanpa maksud mengajarkan balas dendam.

Sekolah  kami  masih  tertinggal.  Kurang  fasilitas  belajar  mengajar  dan  itulah yang  menjadi  hambatan  kami  untuk  bersaing  dengan  teman-teman  di  Jawa. Apalagi  jarak  sekolah  seringkali  jauh  sekali  dari  rumah.  SMA  saya  jauhnya sekitar  21  km.  Kami  ke  sekolah  naik  mobil  lintas,  terkadang  harus  naik  truk pasir/barang. Tragisnya kalau sudah tidak ada mobil, ya terpaksa pulang jalan kaki.

Namun  tekad  kami,  dengan  alam  kami  belajar,  dengan  alam  kami  bertahan hidup.  Para  sahabat  pribumi  mereka  sangat  baik,  bahkan  mereka  telah menganggap  kami  seperti  saudara.  Kami  sering  belajar  bersama  dengan mereka.  Kalau  kami  mengajari  mereka,  mereka  memberi  kita  oleh-oleh  dari kampung seperti sayuran, durian, sagu, ikan.

Jalan jongkok, tampar, pukul, lari, jemur itu sudah mentradisi di sekolah sedari SD.  Jangankan  terlambat  sekolah,  tak  menyapa  guru  di  jalan  saja  dihukum. Rambut  panjang,  tak  mengerjakan  tugas,  berdebat  dengan  guru  hingga  guru merasa  kalah,  bagi  mereka  itu  bentuk  perlawanan  dari  kami.  Oleh  karenanya kami sering dihukum. Kalau untuk hukuman tak mengenal anak siapa, semua sama rata. Tapi jaman ibuku dulu, masih dipisahkan antara anak tapol dan yang bukan. Anak tapol hukumannya seringkali lebih parah.

Di  sekolah,  kami,  para  keturunan  eks-tapol,  masih  seringkali  dijuluki  “anak unit” karena pada zaman embah dulu ditahan, sistem penjaranya menggunakan unit. Apalagi kalau kami dihukum, sapaan "anak unit" selalu terlontar.

Bersama  teman-teman  saya  “anak  unit”  itu,  kami  sering  berdiskusi  tentang politik. Karena kesadaran ini membuat kami kritis, hingga masuk SMA, kami cukup  disegani  oleh  teman-teman  lain  di  sekolah.  Tidak  itu  saja,  keberanian untuk mengutarakan pendapat telah ditanamkan dari kecil, dan kami sudah tahu tentang berbagai sistem ekonomi, seperti sosialis dan kapitalis yang waktu itu seperti mahluk luar angkasa saja bagi teman-teman lainnya.

Suatu  saat  di  SMA,  ada  pelajaran  sejarah,  mengisahkan  tentang  PKI  dan Suharto.  Guru  tersebut  juga  menyinggung  dengan  keras  para  tapol  di  pulau Buru. Tergugahlah saya untuk menyanggah. Dengan nada agak emosi: "Kakek kami,  ayah  kami  dan  sesepuh  kami  yang  berada  di  Pulau  Buru  bukanlah Penghianat  NKRI  dan  bukan  para  pembunuh  para  Jendral.  Merekalah  korban kambing  hitam  atas  kelicikan  atas  keserakahan  Suharto"  sembari  melempar buku  dengan  judul  Diburu  di  Pulau  Buru  milik  ayah  saya  serta  catatan  kecil obrolan  semalam  dengan  mbah  Solihin  (mantan  tapol  Savanajaya  juga)  ke depan kelas.

Saya sudah meninggalkan sekolah itu, untuk kuliah di Jawa. Namun, adik saya Mukram, yang sekarang duduk di kelas 3 SMA seolah melanjutkan perdebatan saya dengan guru Sejarah itu. Dia bahkan menyuarakan orasinya pada tanggal 30 September di sekolah.

Inilah  kisahnya  melalui  telpon:  "Kak,  tadi  beta  sudah  menyampaikan  secuil aspirasi  dari  embah''  di  Savanajaya  tepat  hari  Senin,  pasca  upacara  bendera, beta langsung menghentikan anak-anak untuk bubar dari barisan. Dengan agak sedikit gugup dan  setengah berani, beta turunkan bendera setengah tiang, yang baru dikibarkan saat upacara bendera. Beta langsung dimarahi sama pak guru sembari  mengarahkan  rotan  Jawa  ke  arah  badan  beta.  Tapi  beta  tentang,  dan mulailah  orasi  kecil  beta:  Sejatinya  hari  ini,  adalah  hari  duka  mendalam  bagi Indonesia  setelah  Indonesia  merdeka.  Kisah  tragis  masih  membekas  dan mengalir  di  dalam  darah  para  anak  cucu  tahanan  politik.  Embah  saya,  ayah mereka,  dan  sesepuh  kami  adalah  korban  keji  rezim  orde  baru.  Mereka membabat  hutan  pulau  Buru,  hingga  ayah  dan  ibu  kalian  semua  berada  di lembah  berdarah  ini  (sembari  menunjuk  ke  arah  para  teman:  anak-anak transmigran).” Kemudian telpon kami terputus.***

"Kehidupan di Pulau Buru"

Savanajaya  ini  bagi  saya  tempat  yang  sangat  menyenangkan.  Rasa kebersamaannya tinggi. Kalau ada yang mau berkunjung, pasti tidak kesulitan menemukan  tempat  tinggal.  Mungkin  karena  ini,  banyak  orang  suka  dengan tempat  kami,  termasuk  intel  yang  dikirim  untuk  memata-matai  kami.

Pada tahun 2008-2009, pemerintah mengirimkan intelnya, untuk memata-matai kegiatan kami. Semula ada 1 anggota intel  yang dulu mengakunya orang dari Jawa,  dan  tinggal  di  samping  rumah  saya,  kerjanya  membuat  tempe.  Setelah beberapa  bulan  tinggal  di  Savanajaya,  mulailah  ia  menjalankan  misi  dengan halus,  untuk mencari tahu tentang seluk beluk kami. Katanya sih mau cari tahu masih ada bara api untuk memberontak atau tidak. Tapi lama kelamaan ia mulai betah,  dan  semenjak  ia  pindah  dari  jabatan  intelnya  menjadi  tentara  organik, mulailah  ia  berterus  terang  dengan  pemilik  rumah  itu,  tentang  maksud  dan tujuan  ia  datang  ke  Savanajaya.  Dan  nyatanya  ia  mulai  betah  dan  cinta  pada orang-orang  Savanajaya,  yang  secara  bijak  memaparkan  kami  bukan pemberontak dan bukan pendendam.

Sayangnya  pendidikan  dan  fasilitas  masih  sangat  terbatas  di  sini.  Karena  itu, saya  harus  ke  Jawa  (Yogya),  untuk  kuliah.  Begitu  juga  saudara  misan  saya. Mereka  bilang,  pelajaran  di  Yogya  itu  sukar,  karena  di  pulau  Buru  kan  agak ketinggalan.  Itu  yang  membuat  saya  tertantang.  Tapi  sewaktu  di  Yogya,  saya bisa mengikuti kuliah dengan baik. Saya juga sempat menentang dosen saya di Yogya.  Dia  menyatakan  bahwa  yang  terbaik  adalah  agama  Islam  dalam memecahkan  segala  hal,  lalu  menyindir  eks-tapol.  Tanpa  segan,  saya menyanggahnya, dengan semboyan embah saya  “Pulau Buru bukti Orde Baru. Keliru, ojo ditiru [Kalau salah, jangan ditiru].” Saya paparkan sejarah para eks tapol kepada dosen itu, lalu bertanya apakah agama bisa memecahkannya. Saya tidak tahu apa nanti reaksi dosen tersebut, karena rasanya dia menghindar. Tapi saya sudah bertekad untuk terus menyuarakan kebenaran ini.***



4 komentar:

Anonim mengatakan...

Makasih infonya....keluaga saya extapol...terkutuk soeharto

Anonim mengatakan...

Makasih infonya....keluaga saya extapol...terkutuk soeharto

Anonim mengatakan...

Makasih infonya....keluaga saya extapol...terkutuk soeharto

Unknown mengatakan...

Kembali kasih pak sudah sempat mampir..

Contoh :