Desa Savanajaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, tampil memikat dengan banyaknya lumbung padi. Tetapi di balik itu, para traveler bisa napak tilas tentang penjara yang menjadi saksi bisu perjuangan sastrawan besar "Pramoedya Ananta Toer".
"Duniaku bukan pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku Bumi, Manusia, dan persoalanya" Begitulah kutipan bijak sastrawan tua dengan perawakan kurus itu, dalam Bukunya BUMI MANUSIA.
Hari ini, esok, bahkan seribu tahun lagi kita tak akan lagi bertemu dan berjabat dengan beliau. Tetapi eksistensi Pram, begitu ia biasa di panggil, tak hanya sebagai penulis. Ia adalah pejuang pergerakan yang sempat di asingkan ke Pulau Buru, pada masa Rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto.
Catatan Wikipedia, Kamis ( 16/05/2013 ); Bersama Pram ada sekitar 10.000 Tahanan Politik lain juga yang sama nasibnya seperti Pram, sama-sama menyandang gelar TAPOL dan di asingkan ke Pulau Buru. Mereka terpecah menjadi beberapa unit / barak tahana, masing-masing berjarak 4-6 kilometer. Sekarang, satu-satunya tempat untuk para traveler melihat bekas bangunan penjara ini adalah Unit Desa "Savanajaya". Sebuah Desa yang punya banyak potensi di bidang petanian, dan menjadi gerbang Lumbung Padi di Bumi Waeapo. Ini karena mayoritas penduduk Desa ini adalah Transmigrasi dari Pulau Jawa yang datang sejak Tahun 1970. Bertani dan bercocok tanam Padi adalah mata pencaharian para transmigran ini.
Sayangnya, hanya satu bangunan yang tersisa dari Penjara bekas para Tapol. Terletak di tengah-tengah Desa, sebuah bangunan kayu tua, dan sempat menjadi tempat berkumpulnya para Tahanan Politik di masa itu. Bentuknya seperti panggung, Lebar 5-10 meter, dan panjang sekitar 50 meter. Di tempat inilah Rezim dan penyiksaan di mulai. Puluhan ribu Tahanan Politik di paksa membabat hutan rapat Pulau Buru menjadi lahan persawahan, Jembatan, juga Jalan.
Di sawah, ladang, juga barak penampungan itulah, Pram menceritakan Bumi Manusia. Ia menceritakan pertama buku yang di buatnya di Pulau Buru itu secara lisan, tepatnya mulai tahun 1973. Pram sendiri mulai di asingkan ke Pulau Buru mulau 1969-1979. Bumi manusia menjadi yang pertama dari ke-empat buku hasil pemikirannya di Pulau Buru. Tiga Buku lain adalah Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, yang semuanya terangkum dalam Tetralogi Pulau Buru.
Desa Savanajaya adalah satu-satunya tempat yang tersisa untuk mengenang kembali ganasnya Penjara Pulau Buru. Ialah Gedung Kesenian itu menjadi satu-satunya bangunan yang bertahan, dan menjadi sejarah rapat, saksi bisu Rezim Soeharto. Sayang sekali, padahal Pulau ini punya unsur wisata sejarah yang kental. Masih banyak sejarah tersembunyi di balik Lumbung-lumbung padi Desa Savanajaya.

4 komentar:
Semoga saya bisa berkunjung ke Savanajaya :)
Dengan senang hati aq siap jd guiding bu guru haha
Nanti saya antar sampai bandara. Haha :D
Posting Komentar